Breaking News
Berita  

Proyek P3-TGAI Desa Karangkedawang, Langkah Awal Pertahanan Pertanian Masa Depan

Katapublikjatim|MOJOKERTO, – Desa Karangkedawang, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto kini tengah menyambut angin segar bagi dunia pertanian setempat. Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) senilai Rp195.000.000 yang dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2026, resmi berjalan di Daerah Irigasi Penewon. Proyek yang dikelola Balai Besar Wilayah Sungai Brantas ini menjadi bukti nyata perhatian pemerintah pusat terhadap ketersediaan air yang menjadi nyawa bagi ribuan hektar lahan pertanian di wilayah tersebut.

Sesuai ketentuan Permen PUPR Nomor 4 Tahun 2021 dan Surat Edaran Dirjen SDA Nomor 02/SE/D/2024, pelaksanaan program ini diserahkan secara swakelola kepada Perkumpulan Kelompok Petani Pengguna Air Tani Mulyo Desa Karangkedawang. Langkah ini bukan sekedar aturan administrasi, melainkan wujud kepercayaan penuh pemerintah bahwa petani adalah pihak yang paling paham seluk-beluk kebutuhan air di lahan yang mereka kelola sehari-hari.

Kehadiran proyek ini disambut antusiasme tinggi oleh warga desa. Selama bertahun-tahun, saluran irigasi di wilayah ini sering mengalami pendangkalan dan kerusakan, sehingga aliran air tidak merata dan seringkali petani di ujung saluran kekurangan pasokan saat musim tanam tiba.

“Kami sudah lama menunggu perbaikan saluran ini. Kalau sudah selesai, kami berharap tidak ada lagi kekhawatiran tanaman kekeringan,” ujar salah satu petani yang ikut terlibat dalam pekerjaan.

Dengan skema swakelola ini, manfaat ekonomi tidak hanya berupa perbaikan infrastruktur, tetapi juga langsung dirasakan oleh masyarakat setempat. Seluruh upah tenaga kerja yang terserap dalam proyek ini disalurkan kepada anggota kelompok petani dan warga Desa Karangkedawang, sehingga menjadi suntikan pendapatan tambahan yang sangat berarti di tengah biaya produksi pertanian yang terus meningkat.

Balai Besar Wilayah Sungai Brantas menjamin pelaksanaan proyek tetap berpedoman pada standar teknis yang berlaku. Tim pendamping teknis dari instansi tersebut rutin turun ke lokasi untuk memantau perkembangan pekerjaan, memberikan bimbingan pemilihan bahan bangunan yang tepat, serta memastikan setiap tahapan dikerjakan sesuai spesifikasi agar hasilnya kuat dan tahan lama.

Kepala Dusun Karangkedawang, Mahmudi, menyampaikan bahwa pihaknya senantiasa berkoordinasi dengan kelompok petani dan tim BBWS Brantas demi memastikan proyek berjalan lancar. “Kami melihat semangat gotong royong yang bangkit kembali di desa ini. Warga saling membantu, berdiskusi bersama demi hasil terbaik. Ini nilai tambah yang tak ternilai selain infrastruktur yang kami peroleh,” ujarnya. Sabtu, (1/8/2026).

Pemanfaatan dana APBN senilai Rp195 juta ini direncanakan mampu memperbaiki saluran irigasi sepanjang lebih dari 250 meter atau tepatnya sekitar 260 meter. Jika selesai nanti, aliran air dari sumber utama dapat mengalir lebih cepat dan merata hingga ke lahan pertanian paling jauh, sehingga berpotensi meningkatkan produktivitas panen hingga 20% lebih tinggi dari sebelumnya.

Dalam pelaksanaannya, tim pengawas bersama ketua HIPPA juga terus mensosialisasikan pentingnya keselamatan kerja kepada seluruh tenaga kerja. Perlengkapan keselamatan kerja mulai dari helm, sepatu khusus hingga pelindung diri lainnya telah disiapkan dan akan digunakan secara bertahap seiring berjalannya pekerjaan yang memasuki fase konstruksi.

Pakar pembangunan menilai pelaksanaan swakelola seperti ini adalah model pemberdayaan yang paling tepat. Petani tidak hanya menjadi objek penerima bantuan, tetapi juga subjek yang berperan aktif merencanakan, mengelola, dan menjaga aset yang dibangun. Hal ini secara alami akan menumbuhkan rasa memiliki yang tinggi sehingga infrastruktur yang selesai dibangun akan senantiasa dirawat dengan baik.

Salah satu keunggulan pelaksanaan oleh kelompok petani sendiri adalah efisiensi dalam penggunaan sumber daya. Mereka tahu persis bagian mana yang membutuhkan penguatan lebih dan mana yang cukup dengan perbaikan ringan. Hal ini membuat penggunaan anggaran menjadi lebih tepat sasaran dan tidak ada pemborosan bahan maupun dana.

Kelompok tani juga berharap, proyek ini menjadi awal perbaikan berkelanjutan. Setelah saluran irigasi berfungsi optimal, mereka berencana membentuk tim pemeliharaan rutin yang terdiri dari anggota kelompok petani agar manfaat investasi negara ini dapat dinikmati oleh generasi petani mendatang.

Warga Kabupaten Mojokerto pun memberikan apresiasi atas semangat warga Desa Karangkedawang. Program P3-TGAI ini diharapkan menjadi contoh sukses pelaksanaan swakelola yang nantinya dapat diterapkan di desa-desa lain di wilayah Mojokerto yang juga membutuhkan pembenahan irigasi.

Menjelang penyelesaian proyek yang ditargetkan berakhir pada 20 Agustus 2026, berbagai persiapan akhir mulai dilakukan. Kelompok petani bersama tim teknis sedang menyusun rencana uji coba aliran air dan jadwal pemeliharaan pertama pasca-pekerjaan selesai.

Bagi para petani di Desa Karangkedawang, kehadiran saluran irigasi yang baik bukan hanya soal air untuk tanaman, melainkan harapan akan masa depan yang lebih terjamin. Dengan resiko kekeringan yang dapat diminimalisir, mereka berani merencanakan penanaman varietas unggul dan bahkan berencana mengembangkan tanaman bernilai ekonomi tinggi.

Proyek P3-TGAI di Desa Karangkedawang adalah bukti sinergi yang indah antara kebijakan pemerintah yang pro-rakyat dengan semangat kemandirian masyarakat desa. Dengan dukungan yang tepat, bantuan negara bukan sekedar bantuan sesaat, melainkan pondasi kuat bagi kemajuan pertanian dan kesejahteraan petani di Jawa Timur.

Pewarta Agung Ch

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *