Katapublikjatim|Semarang – Transformasi digital dan kehadiran Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) bukan lagi ancaman, melainkan mitra strategis yang tak terelakkan dalam dunia akademik. Hal ini menjadi benang merah utama dalam Seminar Nasional bertajuk “Masa Depan Penelitian: Inovasi, Kolaborasi, dan Impact” yang diselenggarakan oleh Kelurahan Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) Universitas Diponegoro (Undip), Sabtu (27/12/2025).
Acara yang digelar secara daring ini dihadiri oleh ratusan peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Seminar ini menghadirkan dua narasumber ahli yang juga merupakan Pembina Kelurahan BPI Undip, yakni Dr. Ana Pujianti Harahap, S.Si.T., M.Keb (Universitas Muhammadiyah Mataram) dan Dr. Zico Junius Fernando, S.H., M.H., CIL., C.Med., CLA (Universitas Bengkulu). Keduanya juga merupakan Pembina Kelurahan BPI Undip.
Lurah BPI Undip Periode 5.0, Akhlis Munazilin, S.Kom., M.T., dalam sambutannya menegaskan bahwa penelitian modern tidak boleh lagi bersifat statis. “Tema ini mengajak kita memandang penelitian bukan sekadar aktivitas akademik, tapi proses dinamis. Inovasi menjadi penggerak, kolaborasi memperkuat relevansi, dan impact memastikan hasil penelitian memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Akhlis.
Pada sesi pertama, Dr. Ana Pujianti Harahap menyoroti bagaimana digitalisasi membuka akses terhadap Big Data yang sebelumnya sulit dijangkau. Ia mencontohkan revolusi di bidang kesehatan, mulai dari rekam medis elektronik, telemedis, hingga operasi jarak jauh yang kini dimungkinkan berkat teknologi.
Namun, Dr. Ana juga mengingatkan adanya tantangan krusial terkait keamanan data. “Di era digital, integritas data dan privasi responden menjadi pertaruhan. Peneliti harus memastikan validasi ketat dan mematuhi kode etik penelitian, jangan sepenuhnya menyerahkan proses pada mesin,” tegasnya.
Sementara itu, Dr. Zico Junius Fernando membawa diskusi ke ranah yang lebih filosofis dan teknis. Menurutnya, AI telah mengubah epistemologi atau cara manusia memproduksi pengetahuan. Riset yang dulunya memakan waktu berbulan-bulan untuk tinjauan literatur, kini bisa dipangkas drastis. “AI bukan kompetitor, melainkan mitra strategis. AI mengurus sisi teknis dan komputasi, sementara manusia tetap menjadi pusat nilai, memegang kendali etika, dan penentu arah kebijakan,” papar Dr. Zico.
Ia juga membagikan berbagai tools berbasis AI yang legal digunakan untuk menunjang produktivitas peneliti, seperti Elicit untuk pencarian referensi, Mendeley untuk sitasi, hingga Grammarly untuk tata bahasa, sembari menekankan pentingnya transparansi penggunaan alat-alat tersebut dalam metodologi.
Sesi diskusi berjalan dinamis ketika peserta menyoroti isu “jiwa” dan empati yang tidak dimiliki oleh mesin. Menanggapi hal tersebut, kedua narasumber sepakat bahwa validasi manusia adalah benteng terakhir. “AI tidak memiliki kalbu. Oleh karena itu, critical reasoning dan keputusan akhir mutlak ada di tangan manusia agar riset tidak kehilangan roh kemanusiaannya,” tambah Dr. Zico merespons pertanyaan peserta.
Acara ditutup dengan komitmen dari pengurus Kelurahan BPI Undip untuk menjadikan forum ilmiah ini sebagai agenda rutin bulanan, guna mempersiapkan para awardee menghadapi ekosistem riset global yang semakin kompetitif.
